Cerita Dewasa 2017 Nafsu Bergejolak Sepupuku Bispak Cerita Dewasa 2017 Nafsu Bergejolak Sepupuku Bispak Cerita Dewasa 2017 Nafsu Bergejolak Sepupuku Bispak 550727 435064119885691 1664380639 n

Cerita Dewasa 2017 Nafsu Bergejolak Sepupuku Bispak

Diposting pada

"Jika Gambar Tidak Tampil Silahkan Gunakan VPN untuk menampilkan gambar yang terblokir operator"

Cerita Dewasa 2017 Nafsu Bergejolak Sepupuku Bispak – Belom lama ini aqu kembali bertemu Shanaz (bukan nama sebenarnya). Ia kini telah berkeluarga dan sejak menikah tinggal di Palembang. Untuk suatu urusan keluarga, ia bersama anaknya yg masih berusia 6 tahun pulang ke Yogya tanpa disertai suaminya. Shanaz masih seperti dulu, kulitnya yg putih, bibirnya yg merah merekah, rambutnya yg lebat tumbuh terjaga selalu di atas bahu. Meski rambutnya agak kemerahan tetapi karena kulitnya yg putih bersih, selalu saja menarik dipandang, apalagi kalau berada dalam pelukan dan dielus-elus. Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, ia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yg juga kakak ibuku. Rumahku dan rumah bude agak jauh dan saat itu kami jarang ketemu Shanaz.

Cerita Dewasa 2017 Nafsu Bergejolak Sepupuku Bispak Cerita Dewasa 2017 Nafsu Bergejolak Sepupuku Bispak Cerita Dewasa 2017 Nafsu Bergejolak Sepupuku Bispak 550727 435064119885691 1664380639 n 630x380Aqu mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia memang perempuan yg lincah, terbuka dan tergolong
berotak encer. Setahun setelah aqu menikah, isteriku melahirkan anak kami yg pertama. Hubungan
kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota. Sewaktu
melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit lebih
lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu, ibu
mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Shanaz) serta Shanaz dgn suka rela bergiliran membantu
kerepotan kami. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung
bisa merawat dan menyusui anak kami.

Cerita Dewasa 2017 Nafsu Bergejolak Sepupuku Bispak – Hari-hari berikutnya, Shanaz masih sering datang menengok anak kami yg katanya cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dgn Shanaz. Kalau sedang rewel, menangis,
meronta-ronta kalau digendong Shanaz menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan atau
gendongan Shanaz. Sepulang kuliah, kalau ada saat, Shanaz selalu mampir dan membantu
isteriku merawat si kecil. Lama-lama Shanaz sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat senang
atas bantuan Shanaz. Tampaknya Shanaz tulus dan ikhlas membantu kami. Apalagi aqu harus
kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya.
Shanaz mulai tak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa mengurus
seluruh keperluannya. Tetapi suatu malam ketika aqu masih asyik menyelesaikan pekerjaan di
kantor, Shanaz tiba-tiba muncul.

“Ada apa Na, malam-malam begini.”
“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”
“Ya, Dari mana kamu?”
“Sengaja kemari.”

Shanaz mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Shanaz terlihat mengenakan rok
dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.

“Ada apa, Shanaz?”
“Mas… aqu pengin seperti Mbak Tari.”
“Pengin? Pengin apanya?” Shanaz tak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yg putih
mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia telah duduk di pangkuanku.
“Shanaz, apa-apaan kamu ini..”
Tanpa menungguku selesai bicara, Shanaz telah menyambarkan bibirnya di bibirku dan
menyedotnya kuat-kuat. Bibir yg selama ini hanya dapat kupandangi dan baygkan, kini benar-
benar mendarat keras. Kulumanya penuh nafsu dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya
dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan
menyedotnya kuat-kuat. Aqu berusaha melepaskannya tetapi sandaran kursi menghalangi.
Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah berbulan-bulan tak berhubungan intim
dgn isteriku. Shanaz merenggangkan pagutannya dan katanya, “Mas, aqu selalu ketagihan
Mas. Aqu suka berhubungan dgn laki-laki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tak
bercumbu beberapa hari saja rasanya badan panas dingin. Aqu belom pernah menemukan l
aki-laki yg pas.”

Kuangkat badan Shanaz dan kududukkan di atas kertas yg masih berserakan di atas meja kerja. Aqu
bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaqu. Aqu mengunci dan menutup
kelambu ruangan.

“Na.. Kuaqui, aqu pun kelaparan. Telah empat bulan tak bercumbu dgn Tari.”
“Jadikan aqu Mbak Tari, Mas. Ayo,” kata Shanaz sembari turun dari meja dan
menyongsong langkahku.

Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yg empuk sepenuhnya menempel di dadaqu. Terasa
pula kemaluanku yg telah mengeras berbenturan dgn perut bawah pusarnya yg lembut. Shanaz
merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yg masih terbungkus celana tebal. Shanaz
kembali menyambar leherku dgn kuluman bibirnnya yg merekah bak bibir artis terkenal. Aliran
listrik seakan menjalar ke seluruh badan. Aqu semula ragu menyambut keliaran Shanaz. Tetapi
ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh badan, menjadi mubazir belaka melepas
kesempatan ini.

“Kamu amat bergairah, Shanaz..” bisikku lirih di telinganya.
“Hmmm… iya… Sayg..” balasnya lirih sembari mendesah.
“Aqu sebenarnya menginginkan Mas sejak lama… ukh…” serunya sembari menelan ludahnya.
“Ayo, Mas… teruskan..”
“Ya Sayg. Apa yg kamu inginkan dari Mas?”
“Semuanya,” kata Shanaz sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku.

Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap T-Shirt
yg dikenakannya. Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Shanaz telah diangkat tanda
meminta T-Shirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku langsung
memeluknya kuat-kuat hingga badan Shanaz lekat ke dadaqu. Kedua bukitnya menempel kembali,
terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yg terletak di punggungnya. Kulepas
perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung
payudaranya menempel lekat ke arahku. Aqu melorot perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh
gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Shanaz, tetapi menambah
nikmat aroma perempuan muda.

Tangan Shanaz mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaqu agar mulutku segera menyedot
putingnya. “Sedot kuat-kuat Mas, sedooottt…” bisiknya. Aqu memenuhi permintaannya dan Shanaz
tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet
tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat. “Mas lepas…” katanya sembari telentang di lantai.
Shanaz meminta aqu melepas pakaian. Shanaz sendiri pun melepas rok dan celana dalamnya. Aqu
pun berbuat demikian tetapi masih kusisakan celana dalam. Shanaz melihat dgn pandangan mata
sayu seperti tak sabar menunggu. Segera aqu menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap badannya dari
arah samping sembari kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Shanaz melenguh sedikit
kemudian sedikit memiringkan badannya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke
mulutku.

“Mas sedot Mas… teruskan, enak sekali Mas… enak…” Kupenuhi permintaannya sembari kupijat-
pijat pantatnya. Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Shanaz. Rambutnya tak terlalu tebal
tetapi datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku. Kumainkan
jemariku di sana dan Shanaz tampak sedikit tersentak. “Ukh… khmem.. hsss… terus… terus,”
lenguhnya tak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan
memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya. Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai
gumpalan kecil daging di dinding atas depan kemaluannya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama.
Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin
klitoris Shanaz dgn teknik petik melodi.

Shanaz menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh nikmat. “Mas… Mas… ampun… terus,
ampun… terus ukhhh…” Sebentar kemudian Shanaz lemas. Tetapi itu tak berlangsung lama karena
Shanaz kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif. Tangannya mencari-cari arah
kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dgn serta merta Shanaz menarik celana
dalamku. Bersamaan dgn itu melesat keluar pusaka kesaygan Tari. Akibatnya, memukul ke arah
wajah Shanaz. “Uh… Mas… apaan ini,” kata Shanaz kaget. Tanpa menunggu jawabanku, tangan
Shanaz langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus kemaluanku.

“Mas… ini asli?”
“Asli, 100 persen,” jawabku.

Shanaz geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan kemaluanku yg
berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian samping kanan
terlihat menonjol aliran otot keras. Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yg
menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yg membuat perempuan bertambah nikmat
merasakan tusukan senjata andalanku.

“Mas, belom pernah aqu melihat kemaluan sebesar dan sepanjang ini.”
“Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.”
“Alangkah bahagianya MBak Tari.”
“Makanya kamu pengin seperti dia, kan?”

Shanaz langsung menarik kemaluanku. “Mas, aqu ingin cepat menikmatinya. Masukkan,
cepat masukkan.”

Shanaz menelentangkan badannya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan
bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang kemaluan yg mungil. Aqu telah
berada di antara pahanya. Exocet-ku telah siap meluncur. Shanaz memandangiku penuh harap.

“Cepat Mas, cepat..”
“Sabar Shanaz. Kamu harus benar-benar terangsang, Sayg…”

Tetapi tampaknya Shanaz tak sabar. Belom pernah kulihat perempuan sekasar Shanaz. Dia tak
ingin dicumbui dulu sebelom dirasuki kemaluan pasangannya. “Cepat Mas…” ajaknya lagi. Kupenuhi
permintaannya, kutempelkan ujung kemaluanku di permukaan lubang kemaluannya, kutekan
perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali tetapi Shanaz justru mendorongkan
pantatku dgn kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas. Tak terhindarkan,
batang kemaluanku bagai membentur dinding tebal. Tetapi Shanaz tampaknya ingin main kasar. Aqu
pun, meski belom terangsang benar, kumasukkan kemaluanku sekuat dan sekencangnya. Meski
perlahan dapat memasukirongga kemaluannya, tetapi terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan
sulit. Shanaz tak gentar, malah menyongsongnya penuh gairah.

“Jangan paksakan, Sayg..” pintaqu.
“Terus. Paksa, siksa aqu. Siksa… tusuk aqu. Keras… keras jangan taqut Mas, terus..” Dan aqu tak
bisa menghindar. Kulesakkan keras hingga separuh kemaluanku telah masuk. Shanaz menjerit,
“Aouwww.. sedikit lagi..” Dan aqu menekannya kuat-kuat. Bersamaan dgn itu terasa ada yg mengalir
dari dalam kemaluan Shanaz, meleleh keluar. Aqu melirik, darah… darah segar. Shanaz diam.
Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam. Aqu menahan kemaluanku tetap menancap. Tak
turun, tak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Shanaz dgn mulutku.
Meski agak membungkuk, aqu dapat mencapainya. Shanaz sedikit berkurang ketegangannya.

Beberapa saat kemudian ia memintaqu memulai aktivitas. Kugerakkan kemaluanku yg hanya
separuh jalan, turun naik dan Shanaz mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu
kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Shanaz pasrah dan tak sebuas
tadi. Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yg mulai basah dan mengalirkan
cairan pelicin. Shanaz mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada akhirnya
menjerit lirih, “Uuuhh.. Mas… uhhh… enaakkkk.. enaaakkk… Terus… aduh… ya ampun enaknya..”
Shanaz melemas dan terkulai. Kucabut kemaluanku yg masih keras, kubersihkan dgn bajuku. Aqu
duduk di samping Shanaz yg terkulai.

“Shanaz, kenapa kamu?”
“Lemas, Mas. Kamu amat perkasa.”
“Kamu juga liar.”

Shanaz memang sering berhubungan dgn laki-laki. Tetapi belom ada yg berhasil menembus
keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Tetapi perkiraanku, para lelaki akan takluk
oleh garangnya Shanaz mengajak senggama tanpa pemanasan yg cukup. Gila memang anak itu,
cepat panas.

Sejak kejadian itu, Shanaz selalu ingin mengulanginya. Tetapi aqu selalu menghindar. Hanya sekali
peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Shanaz saat itu kesetanan dan kuladeni
kemauannya dgn segala gaya. Shanaz mengaqu puas.

Setelah lulus, Shanaz menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tak ada kabarnya. Dan,
ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aqu berjumpa di rumah bude.

“Mas Danu, mau nyoba lagi?” bisiknya lirih.
Aqu hanya mengangguk.
“Masih gede juga?” tanyanya menggoda.
“Ya, tambah gede dong.”
Dan malamnya, aqu menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali terjadi
dalam posisi sama-sama telah matang.

“Mas Danu, Mbak Tari telah bisa dipakai belom?” tanyanya.
“Belom, dokter melarangnya,” kataqu berbohong.
Dan, Shanaz pun malam itu mencoba melayaniku hingga kami sama-sama terpuaskan.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *